tythan

Perilaku Merokok

1. Pengertian Merokok

Poerwadarminta (dalam Kemala, 2007) mendefinisikan merokok sebagai menghisap rokok, dan rokok didefinisikan sebagai gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas. Hal ini senada dengan pendapat Armstrong (dalam Kemala, 2007) merokok adalah menghisap asap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar.

Menurut Ogawa (dalam Kemala, 2007) dahulu perilaku merokok disebut sebagai suatu kebiasaan atau ketagihan, tetapi dewasa ini merokok disebut sebagai tobacco dependency atau ketergantungan tembakau. Tobacco dependency sendiri dapat didefinisikan sebagai perilaku penggunaan tembakau yang menetap, biasanya lebih dari setengah bungkus rokok perhari, dengan adanya tambahan distres yang disebabkan oleh kebutuhan akan tembakau secara berulang-ulang.

Definisi yang disampaikan oleh Komalasari dan Alvin (2008) tentang Perilaku merokok adalah sebagai aktivitas subjek yang berhubungan dengan perilaku merokoknya, yang diukur melalui intensitas merokok, waktu merokok, dan fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku merokok adalah gulungan tembakau yang berbalut daun nipah atau kertas yang digunakan dengan cara menghisap tembakau yang dibakar ke dalam tubuh dan menghembuskannya kembali keluar.

2. Aspek-aspek Perilaku Merokok

Aspek-aspek perilaku merokok menurut Aritonang (dalam Kemala, 2007), yaitu :

  1. Fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari

Erickson mengatakan bahwa merokok berkaitan dengan masa mencari jati diri pada diri remaja. Silvans & Tomkins fungsi merokok ditunjukkan dengan perasaan yang dialami si perokok, seperti perasaan yang positif maupun perasaan negatif.

  1. Intensitas merokok

Smet mengklasifikasikan perokok berdasarkan banyaknya rokok yang dihisap, yaitu :

a). Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.

b). Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.

c). Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

 3.  Tempat merokok Tipe perokok berdasarkan tempat ada dua (Mu’tadin, 2002) yaitu :

a). Merokok di tempat-tempat umum / ruang publik

1. Kelompok homogen (sama-sama perokok), secara bergerombol mereka menikmati kebiasaannya. Umumnya mereka masih menghargai orang lain, karena itu mereka menempatkan diri di smoking area.

2.  Kelompok yang heterogen (merokok ditengah orang-orang lain yang tidak merokok, anak kecil, orang jompo, orang sakit, dll).

b). Merokok di tempat-tempat yang bersifat pribadi

1. Kantor atau di kamar tidur pribadi.

Perokok memilih tempattempat seperti ini yang sebagai tempat merokok digolongkan kepada individu yang kurang menjaga kebersihan diri, penuh rasa gelisah yang mencekam.

2. Toilet.

    Perokok jenis ini dapat digolongkan sebagai orang yang suka berfantasi.

4. Waktu merokok

Menurut Presty remaja yang merokok dipengaruhi oleh keadaan yang dialaminya pada saat itu, misalnya ketika sedang berkumpul dengan teman, cuaca yang dingin, setelah dimarahi orang tua, dan lain-lain.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa aspek-aspek dari perilaku merokok yaitu fungsi merokok dalam kehidupan sehari-hari, intensitas meroko, tempat merokok dan waktu merokok.

  1. 3.    Tipe perilaku merokok

Menurut Smet (dalam Kemala, 2007) ada tiga tipe perokok yang dapat diklasifikasikan menurut banyaknya rokok yang dihisap. Tiga tipe perokok tersebut adalah:

  1. Perokok berat yang menghisap lebih dari 15 batang rokok dalam sehari.
  2. Perokok sedang yang menghisap 5-14 batang rokok dalam sehari.
  3. Perokok ringan yang menghisap 1-4 batang rokok dalam sehari.

Menurut Silvan & Tomkins ada empat tipe perilaku merokok berdasarkan Management of affect theory, ke empat tipe tersebut adalah :

  1. Tipe perokok yang dipengaruhi oleh perasaan positif.

a.  Pleasure relaxation, perilaku merokok hanya untuk menambah atau meningkatkan kenikmatan yang sudah didapat, misalnya merokok setelah minum kopi atau makan.

b. Simulation to pick them up. Perilaku merokok hanya dilakukan sekedarnya untuk menyenangkan perasaan.

c. Pleasure of handling the cigarette. Kenikmatan yang diperoleh dari memegang rokok.

2.  Perilaku merokok yang dipengaruhi perasaan negatif.

Banyak orang yang merokok untuk mengurangi perasaan negatif dalam dirinya. Misalnya merokok bila marah, cemas, gelisah, rokok dianggap sebagai penyelamat. Mereka menggunakan rokok bila perasaan tidak enak terjadi, sehingga terhindar dari perasaan yang lebih tidak enak.

3.  Perilaku merokok yang adiktif.

Perokok yang sudah adiksi, akan menambah dosis rokok yang digunakan setiap saat setelah efek dari rokok yang dihisapnya berkurang.

4.  Perilaku merokok yang sudah menjadi kebiasaan.

Mereka menggunakan rokok sama sekali bukan karena untuk mengendalikan perasaan mereka, tetapi karena sudah menjadi kebiasaan.

  1. 4.    Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Merokok Remaja

Mu`tadin mengemukakan alasan mengapa remaja merokok, antara lain:

  1.  Pengaruh Orang Tua

Menurut Baer & Corado, remaja perokok adalah anak-anak yang berasal dari rumah    tangga yang tidak bahagia, dimana orang tua tidak begitu memperhatikan anak-anaknya dibandingkan dengan remaja yang berasal dari lingkungan rumah tangga yang bahagia. Paling kuat pengaruhnya adalah bila orang tua sendiri menjadi figur contoh yaitu perokok berat, maka anak-anaknya akan mungkin sekali untuk mencontohnya. Perilaku merokok lebih banyak didapati pada mereka yang tinggal dengan satu orang tua (Single Paren ). Remaja berperilaku merokok apabila ibu mereka merokok daripada ayah yang merokok. Hal ini lebih terlihat pada remaja putri.

2.    Pengaruh Teman

Berbagai fakta mengungkapkan bahwa semakin benyak remaja merokok maka semakin besar kemungkinan teman-temannya adalah perokok juga dan demikian sebaliknya. Ada dua kemungkinan yang terjadi dari fakta tersebut, pertama remaja tersebut terpengaruh oleh teman-temannya atau sebaliknya. Diantara remaja perokok terdapat 87 % mempunyai sekurang-kurangnya satu atau lebih sahabat yang perokok begitu pula dengan remaja non perokok.

3.    Faktor Kepribadian

Orang mencoba untuk merokok karena alasan ingin tahu atau ingin melepaskan diri dari rasa sakit dan kebosanan. Satu sifat kepribadian yang bersifat pada pengguna obat-obatan (termasuk rokok) ialah konformitas sosial. Pendapat ini didukung Atkinson yang menyatakan bahwa orang yang memiliki skor tinggi pada berbagai tes konformitas sosial lebih menjadi perokok dibandingkan dengan mereka yang memiliki skor yang rendah.

4.    Pengaruh Iklan

Melihat iklan di media massa dan elektronik yang menampilkan gambaran bahwa perokok adalah lambang kejantanan atau glamour, membuat remaja seringkali terpicu untuk mengikuti perilaku seperti yang ada dalam iklan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa faktor yang mempengaruhi perilaku merokok dapat berasal dari pengaruh orang tua, pengaruh teman, faktor kepribadian dan pengaruh iklan.

Disleksia

Disleksia (Inggris: dyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca dan menulis.

Disleksia adalah gangguan membaca yang spesifik pada seseorang dengan pengelihatan dan kemampuan akademis yang memadai (Kalat, 2009). Gangguan ini terjadi karena kondisi otak yang tidak bisa mengenali dan memproseskan simbol-simbol tertentu. Orang-orang yang menderita disleksia mempunyai kesulitan dalam membaca suatu kata dan menganggap kata-kata tersebut berbentuk lain dari bentuk normal.

Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- (“kesulitan untuk”) dan λέξις lexis (“huruf” atau “leksikal”).

Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.

Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsia diderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik.

Disleksia identik dengan ketidakmampuannya untuk belajar karena kesulitan melakukan aktivitas membaca dan menulis. Ketidakmampuan penderita disleksia untuk membaca ini disebabkan oleh kemampuan otak yang memproses informasi secara berbeda.

Sumber :

http://health.detik.com/read/2012/06/05/180445/1933618/763/huruf-huruf-yang-pakai-spasi-bantu-penderita-disleksia-membaca

Gambaran Pekerjaan Di Bidang Psikologi Yang Menggunakan Komputer Sebagai Media/Alat Utama.

Perkembangan ilmu teknologi dan informasi sudah semakin meluas. Penggunaan teknologi juga sering dikaitkan dalamkehidupan sehari hari dan dunia pekerjaan. Apalagi dalam dunia pekerjaan hampir semua perusahaan menggunakan teknologi khususnya dalam penggunaan komputer. Maka dari itu salah satu penggunaan pada bidang psikologi dapat di lakukan contohnya dalam ilmu psikologi forensik.

Psikologi forensik  adalah penelitian dan teori psikologi yang berkaitan dengan efek-efek dari faktor kognitif, afektif, dan perilaku terhadap proses hukum. Beberapa akibat dari kekhilafan manusia yang mempengaruhi berbagai aspek dalam bidang hukum adalah penilaian yang biasa, ketergantungan pada stereotip, ingatan yang keliru, dan keputusan yang salah atau tidak adil. Karena adanya keterkaitan antara psikologi dan hukum, para psikolog sering diminta bantuannya sebagai saksi ahli dan konsultan ruang sidang. Aspek penting dari psikologi forensik adalah kemampuannya untuk mengetes di pengadilan, reformulasi penemuan psikologi ke dalam bahasa legal dalam pengadilan, dan menyediakan informasi kepada personel legal sehingga dapat dimengerti. Maka dari itu, ahli psikologi forensik harus dapat menerjemahkan informasi psikologis ke dalam kerangka legal.

Contohnya penggunaan teknologi komputer dapat membantu untuk  mencari seseorang atau apapun itu. Jika dilihat dari komputer maka hasilnya bisa kelihatan jelas, dan juga kita bisa memperlambat atau mempercepat suatu pemutaran vidio kejadian. Psikolog forensik juga dapat menganalisa hasil dari kejadian yang ada dengan jelas dan nyata dengan, dibantu aplikasi aplikasi tertentu juga yang dapat mendukung Valid atau tidaknya suatu data yang diolah.

Maka dari itu penggunaan teknologi komputer sangat membantu bagi seorang psikologi forensik. pengolahan data menjadi lebih jelas,cepat dan akurat. Mungkin tidak dalam bidang psikologi saja semua bidang pun bisa menggunakan teknologi komputer ini, hanya saja tergantung pada jenis kebutuhan masing masing bidangnya.

SUMBER

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_forensik

Autisme dan Retardasi Mental.

Autisme dan Retardasi Mental.

Hampir 80 persen anak-anak autistik memiliki skor di bawah 70 pada berbagai tes intelegensi terstandar. Karena sejumlah besar anak-anak yang menderita autisme juga mengalami retardasi mental, kadang sulit membedakan kedua disabilitas tersebut.
Meskipun demikian, terdapat beberapa perbedaan penting di antara keduanya. Meskipun anak-anak dengan retardasi mental biasanya memiliki skor rendah dalam semua bagian dan suatu tes intelegensi, skor anak-anak dengan autisme dapat memiliki pola yang berbeda. Secara umum, anak-anak dengan autisme lebih buruk dalam mengerjakan tugas-tugas yang memerlukan pemikiran abstrak, simbolisme, atau logika sekuensial, yang kesemuanya berhubungan dengan kelemahan bahasa mereka (Carpuan pentieri & Morgan, 1994).

Mereka biasanya mendapatkan nilai yang lebih baik pada. berbagai item yang memerlukan keterampilan visual-spasial, seperti mencocokkan rancangan dalam tes-tes rancangan balok dan merakit objek yang belum dirakit (Rutter, 1983). Kadang mereka dapat memiliki keahlian khusus yang mencerminkan talenta besar, seperti kemampuan mengalikan dua angka empat digit dengan cepat tanpa alat bantu apa pun. Mereka juga dapat memiliki memori jangka panjang yang luar biasa, mampu mengingat dengan tepat syair sebuah lagu yang didengar bertahun-tahun lalu. Perkembangan sensorimotorik merupakan bidang kekuatan relatif yang terbesar pada anak-anak dengan autisme. Anak-anak tersebut, yang dapat menunjukkan kelemahan berat dan sangat berat dalam kemampuan kognitif, dapat cukup elegan dan ahli dalam berayun, memanjat, atau keseimbangan, sementara anak-anak dengan retardasi mental jauh lebih lambat dalam perkembangan motonik

Daftar Pustaka
Davinson, Gerald . Psikologi Abnormal/Gerald C. Davinson, Jhon M. Neale, Ann M. Kring; Penerjemah, Noermalasari Fajar.- Jakarta: Pt RajaGrafindo Persada, 2006. XXVII, 1048 hal. ;26 cm. Biblografi : hal 949 Judul asli : Abnormal Psychology

Gejala Encopresis

Gejala Encopresis 

Ada beberapa tanda gejala anak yang Encopresis, yaitu :  – Anak sering mengalami kecelakaan atau tidak dapat menahan BAB dan pakaian bernoda.  – Anak sering mengeluh tentang pakaian terlalu ketat di sekitar pinggang.  – Anak dapat merasakan keras di satu sisi perutnya.  – Anak dapat merasakan sakit yang berlangsung sekitar bagian luar perutnya.  – Anak mengatakan sakit karena terjadi gerakan usus.  – Anak sering makan, atau muntah setelah makan.  – Jika ingin ke toilet terjadi sumbatan di saluran pencernaannya.  – Anak tidak BAB setiap hari.

Sumber:  http://www.medicine.uiowa.edu/cdd/multiple/pdf/EncopresisDiag.pdf

perbandingan jobstreet.com dengan klikkarir.com

JOBSTREET

Jobstreet adalah suatu website penyedia lapangan kerja dari kawasan Indonesia maupun luar negeri yang sudah diketahui masyarakat. Jika ingin masuk dalam akun Jobstreet kita harus melakukan registrasi dan mengisi beberapa kolom identitas akun. Diantra nama depan, password dan yang lainnya terdapat juga kolom untuk memilih pekerjaan yg diminati atau sesuai dengan latar belakang pendidikan. Untuk bisa memasuki profile yang sudah kita buat terlebih dahulu harus melakukan validasi ke email yang kita gunakan sebagai email pada jobsreet tersebut dan jika sudah validasi baru kita bisa melihat lowongan-lowongan kerja yang terletak pada loker jobstreet.

Jobsreet terdapat tiga pilihan menu yaitu Home, Search Jobs, dan MyJobStreet. Dalam Home kita bisa menjelajahi berbagai macam lowongan pekerjaan dari berbagai bidang pendidikan. Search Jobs memilih pekerjaan, baik posisi yang diinginkan maupun gaji, dan lamanya pengalaman.

Pada Jobstreet lowongan pekerjaan kurang mencantumkan adanya alamat perusahaan yang bersangkutan dan tidak dapat langsung di share kepada pengguna akun twitter, Facebook, blogger dan lainnya. Dan iklan dari perusahaan tersebut tidak bisa langsung dicetak.

Klikkarir.com :

A.Pada regitrasi untuk menjadi anggotanya tidak terlalu
ribet hanya memberikan identitas dan email saja.
B.untuk mencari pekerjaan dalam JobsDB dapat dicari dengan
mudah, karena pada klikkarir ini sama dengan JobsDb
menyediakan keyword sehingga mempermudah kita mencari
pekerjaan.
C.Untuk tampilan atau layout pada klikkarir sangat tersusun
rapi sehinngga mempermudah kita
D.Pada Klikkarir.com untuk aplikasi membuat resume langsung
tidak tersedia pada sitis ini.

http://myjobstreet-id.jobstreet.co.id

http://klikkarir.com/

Konsep diri

Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.

Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagai organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan.

Beberapa ahli merumuskan definisi konsep diri, menurut Burns (1993:vi) konsep diri adalah suatu gambaran campuran dari apa yang kita pikirkan orang-orang lain berpendapat, mengenai diri kita, dan seperti apa diri kita yang kita inginkan. Konsep diri adalah pandangan individu mengenai siapa diri individu, dan itu bisa diperoleh lewat informasi yang diberikan lewat informasi yang diberikan orang lain pada diri individu (Mulyana, 2000:7).

Konsep dirididefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang, perasaan dan pemikiran individu terhadap dirinya yang meliputi kemampuan, karakter, maupun sikap yang dimiliki individu (Rini, 2002:http:/www.e-psikologi.com/dewa/160502.htm).

Konsep diri merupakan penentu sikap individu dalam bertingkah laku, artinya apabila individu cenderung berpikir akan berhasil, maka hal ini merupakan kekuatan atau dorongan yang akan membuat individu menuju kesuksesan. Sebaliknya jika individu berpikir akan gagal, maka hal ini sama saja mempersiapkan kegagalan bagi dirinya.

Dari beberapa pendapat dari para ahli di atas maka dapat disimpulkan bahwa pengertian konsep diri adalah cara pandang secara menyeluruh tentang dirinya, yang meliputi kemampuan yang dimiliki, perasaan yang dialami, kondisi fisik dirinya maupun lingkungan terdekatnya.

Menurut Brooks dan Emmart (1976), orang yang memiliki konsep diri positif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

  • Merasa mampu mengatasi masalah. Pemahaman diri terhadap kemampuan subyektif untuk mengatasi persoalan-persoalan obyektif yang dihadapi.
  • Merasa setara dengan orang lain. Pemahaman bahwa manusia dilahirkan tidak dengan membawa pengetahuan dan kekayaan. Pengetahuan dan kekayaan didapatkan dari proses belajar dan bekerja sepanjang hidup. Pemahaman tersebut menyebabkan individu tidak merasa lebih atau kurang terhadap orang lain.
  • Menerima pujian tanpa rasa malu. Pemahaman terhadap pujian, atau penghargaan layak diberikan terhadap individu berdasarkan dari hasil apa yang telah dikerjakan sebelumnya.
  • Merasa mampu memperbaiki diri. Kemampuan untuk melakukan proses refleksi diri untuk memperbaiki perilaku yang dianggap kurang.

Sedangkan orang yang memiliki konsep diri yang negatif menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

  • Peka terhadap kritik. Kurangnya kemampuan untuk menerima kritik dari orang lain sebagai proses refleksi diri.
  • Bersikap responsif terhadap pujian. Bersikap yang berlebihan terhadap tindakan yang telah dilakukan, sehingga merasa segala tindakannya perlu mendapat penghargaan.
  • Cenderung merasa tidak disukai orang lain. Perasaan subyektif bahwa setiap orang lain disekitarnya memandang dirinya dengan negatif.
  • Mempunyai sikap hiperkritik. Suka melakukan kritik negatif secara berlebihan terhadap orang lain.
  •  Mengalami hambatan dalam interaksi dengan lingkungan sosialnya. Merasa kurang mampu dalam berinteraksi dengan orang-orang lain.

Hal-hal yang perlu dipahami tentang konsep diri adalah :

  • Dipelajari melalui pengalaman dan interaksi individu dengan orang lain.
  • Berkembang secara bertahap.
  • Ditandai dengan kemampuan intelektual dan penguasaan lingkungan (positif).
  • Ditandai dengan hubungan individu dan sosial yang mal adaptif (negatif).
  • Merupakan aspek kritikal yang mendasar dan pembentukan perilaku individu.

Komponen Konsep diri adalah:

  • Gambaran diri adalah sikap individu terhadap tubuhnya, baik sadar maupun tidak sadar. Meliputi : performance, potensi tubuh, persepsi dan perasaan tentang ukuran dan bentuk tubuh.
  • Ideal diri adalah persepsi individu tentang perilakunya yang disesuaikan dengan standar pribadi yang terkait dengan cita-cita.
  • Harga diri adalah penilaian individu terhadap hasil yang dicapai dengan cara menganalisis seberapa jauh perilaku individu tersebut.
  • Peran diri adalah pola perilaku sikap nilai dan aspirasi yang diharapkan individu berdasarkan posisinya dimasyarakat.
  • Identitas diri adalah kesadaran akan diri pribadi yang bersumber dari pengamatan dan penilaian sebagai sintesis semua aspek konsep diri sebagai sesuatu yang utuh.

Sumber ; Brooks, W.D., Emmert, P. Interpersonal Community. Iowa. Brow Company Publisher. 1976

Konformitas pada teman sebaya

Conformity adalah tendensi untuk mengubah keyakinan atau perilaku seseorang agar sesuai dengan perilaku orang lain (Cialdini & Goldstein, 2004 dalam Sears dkk, 2009). Dalam Richards, G (2010:64) konformitas adalah melakukan hal yang sama dengan orang lain sesuai dengan norma-norma, selera, pendapat, penataan, dan sebagainya yang bersifat behavioral dalam sebuah kelompok yang didalamnya seseorang mengasumsikan dirinya sebagai anggotanya. Konformitas ini merupakan cara yang digunakan orang muda, khususnya mereka yang termasuk dalam komunitas yang termarginalkan, merasakan adanya ikatan untuk menyesuiakan diri dengan norma-norma subkultural yang tidak didukung oleh sebagian besar masyarakat. Namun demikian, pada tingkat yang lebih luas dengan kehadiran internet dan anonimitas kehidupan urban, tren budaya telah berubah ke arah yang berlawanan dan “normalitas” menjadi semakin sulit untuk diidentifikasikan. Baron & Byrne menjelaskan konformitas bagaimana individu mengubah sikap dan tingkah laku mereka dengan cara yang dipandang  wajar atau dapat diterima oleh kelompok atau masyarakat agar sesuai dengan norma sosial yang ada.  Konformitas kelompok menunjukkan perilaku individu yang melakukan tindakan sesuai dengan harapan-harapan kelompok sosial dimana perilaku tersebut merupakan ekspresi persetujuan pada norma-norma kelompok. Adapaun norma tersebut merupakan aturan-aturan mengenai perilaku yang dapat diterima dan diharapkan. Selain itu, norma-norma tersebut juga akan menentukan perilaku yang sesuai atau tidak sesuai dilakukan oleh seseorang (Myers, 2005:208).

Kecemasan

The New Encyclopedia Britannica (1990) kecemasan atau anxiety adalah suatu perasaan takut, kekuatiran atau kecemasan yang seringkali terjadi tanpa ada penyebab yang jelas. Kecemasan dibedakan dari rasa takut yang sebenarnya, rasa takut itu timbul karena penyebab yang jelas dan adanya fakta-fakta atau keadaan yang benar-benar membahayakan, sedangkan kecemasan timbul karena respon terhadap situasi yang kelihatannya tidak menakutkan, atau bisa juga dikatakan sebagai hasil dari rekaan, rekaan pikiran sendiri (praduga sbuyektif), dan juga suatu prasangka pribadi yang menyebabkan seseorang mengalami kecemasan.

Sue (dalam Herber dan Runyon, 1984) membagi kecemasan dalam empat cara, yaitu :

  1. Cara kognif yaitu dapat berubah dari rasa khawatir hingga panik, preokupasi pada bahaya yang tidak mengenakkan untuk diketahui, ketidakmampuan berkonsentrasi dan mengambil keputusan, dan sulit tidur.
  2. Cara motorik yaitu sering menunjukkan gerakan-gerakan tidak beratur, gemetar, individu sering menunjukkan beberapa perilaku seperti gelisah, melangkah mondar-mandir, menggigit-gigiti bibir dan kuku, dan gugup.
  3. Cara otomatis yaitu perubahan pada sistem saraf otonom dan sering direfleksikan dalam bentuk sesak nafas, mulut kering, tangan dan kaki jadi dingin, sering buang air kecil, jantung berdebar-debar, tekanan darah meningkat, keringat berlebihan, ketegangan otot dan gangguan pencernaan.
  4. Cara afektif yaitu seperti merasa tidak enak dan khawatir mengenai bahaya yang akan datang.

Tipe Kecemasan :

  1. Maramis (1990) membagi kecemasan menjadi 3 bagian :
  2. kecemasan yang mengambang (free floating anxiety), kecemasan yang menyerap dan tidak ada hubungannya dengan suatu pemikiran.
  3. Agitasi, kecemasan yang disertai kegelisahan motorik yang hebat.
  4. Panik, serangan kecemasan yang hebat dengan kegelisahan dan kebingungan serta hiperaktifitas yang tidak terkontrol.

Freud (Hillgrad & Atkinson, 1979), membagi kecemasan menjadi dua bagian:

  1. Kecemasan objektif, kecemasan ini dinilai Freud sebagai suatu respon yang tidak relistik terhadap bahaya eksternal yang mulanya sama dengan rasa takut.
  2. kecemasan neurotis, kecemasan yang timbul dari konflik alam bawah sadar dalam diri individu karena konflik itu tidak disadari, individu tidak mengatahui alasan kecemasannya.

TEORI MOTIVASI

A. TEORI MOTIVASI ABRAHAM MASLOW (1943-1970)

Abraham Maslow (1943;1970) mengemukakan bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki kebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks; yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Kebutuhan pada suatu peringkat paling tidak harus terpenuhi sebagian sebelum kebutuhan pada peringkat berikutnya menjadi penentu tindakan yang penting.
• Kebutuhan fisiologis (rasa lapar, rasa haus, dan sebagainya)
• Kebutuhan rasa aman (merasa aman dan terlindung, jauh dari bahaya)
• Kebutuhan akan rasa cinta dan rasa memiliki (berafiliasi dengan orang lain, diterima, memiliki)
• Kebutuhan akan penghargaan (berprestasi, berkompetensi, dan mendapatkan dukungan serta pengakuan)
• Kebutuhan aktualisasi diri (kebutuhan kognitif: mengetahui, memahami, dan menjelajahi; kebutuhan estetik: keserasian, keteraturan, dan keindahan; kebutuhan aktualisasi diri: mendapatkan kepuasan diri dan menyadari potensinya)
Bila makanan dan rasa aman sulit diperoleh, pemenuhan kebutuhan tersebut akan mendominasi tindakan seseorang dan motif-motif yang lebih tinggi akan menjadi kurang signifikan. Orang hanya akan mempunyai waktu dan energi untuk menekuni minat estetika dan intelektual, jika kebutuhan dasarnya sudah dapat dipenuhi dengan mudah. Karya seni dan karya ilmiah tidak akan tumbuh subur dalam masyarakat yang anggotanya masih harus bersusah payah mencari makan, perlindungan, dan rasa aman.

B. TEORI MOTIVASI HERZBERG (1966)
Menurut Herzberg (1966), ada dua jenis faktor yang mendorong seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan dan menjauhkan diri dari ketidakpuasan. Dua faktor itu disebutnya faktorhigiene (faktor ekstrinsik) dan faktor motivator (faktor intrinsik). Faktor higiene memotivasi seseorang untuk keluar dari ketidakpuasan, termasuk didalamnya adalah hubungan antar manusia, imbalan, kondisi lingkungan, dan sebagainya (faktor ekstrinsik), sedangkan faktor motivator memotivasi seseorang untuk berusaha mencapai kepuasan, yang termasuk didalamnya adalah achievement, pengakuan, kemajuan tingkat kehidupan, dsb (faktor intrinsik).

C. TEORI MOTIVASI DOUGLAS McGREGOR
Mengemukakan dua pandangan manusia yaitu teori X (negative) dan teori y (positif), Menurut teori x empat pengandaian yag dipegang manajer
a. karyawan secara inheren tertanam dalam dirinya tidak menyukai kerja
b. karyawan tidak menyukai kerja mereka harus diawasi atau diancam dengan hukuman untuk mencapai tujuan.
c. Karyawan akan menghindari tanggung jawab.
d. Kebanyakan karyawan menaruh keamanan diatas semua factor yang dikaitkan dengan kerja.

Kontras dengan pandangan negative ini mengenai kodrat manusia ada empat teori Y :
a. karyawan dapat memandang kerjasama dengan sewajarnya seperti istirahat dan bermain.
b. Orang akan menjalankan pengarahan diri dan pengawasan diri jika mereka komit pada sasaran.
c. Rata rata orang akan menerima tanggung jawab.
d. Kemampuan untuk mengambil keputusan inovatif.

D. TEORI MOTIVASI VROOM (1964)
Teori dari Vroom (1964) tentang cognitive theory of motivation menjelaskan mengapa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang ia yakini ia tidak dapat melakukannya, sekalipun hasil dari pekerjaan itu sangat dapat ia inginkan. Menurut Vroom, tinggi rendahnya motivasi seseorang ditentukan oleh tiga komponen, yaitu:
• Ekspektasi (harapan) keberhasilan pada suatu tugas
• Instrumentalis, yaitu penilaian tentang apa yang akan terjadi jika berhasil dalam melakukan suatu tugas (keberhasilan tugas untuk mendapatkan outcome tertentu).
• Valensi, yaitu respon terhadap outcome seperti perasaan posistif, netral, atau negatif.Motivasi tinggi jika usaha menghasilkan sesuatu yang melebihi harapanMotivasi rendah jika usahanya menghasilkan kurang dari yang diharapkan